’’Putuskan
hubunganmu !!!”, pinta ayah kepadaku. Ini kenyataan pahit yang harus aku
terima, dimana hubunganku tidak direstui oleh beliau. Aku menyadari dia hanyalah
seorang pemuda biasa. Namun, cintanya sangat luar biasa kepadaku. ’’Ayah...
tidak mungkin Atin memutuskan dia. Atin sangat menyayangi dia !!! Atin cinta dia karena Allah, Yah”. Ucapku
kepada ayahku dengan wajah berharap dan tidak kuasa aku menahan butiran bening
mengalir di pipiku. ”Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, Atin”.
Aku
tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan ayahku lagi, aku bergegas masuk ke kamarku dan melanjutkan
tangisku sampai akhirnya aku tertidur
pulas. Jarum jam menunjukkan pukul 02:20. Aku segera bangun dan mengambil air
wudhu untuk melaksanakan sholat malam, setelah itu aku curahkan semua isi
hatiku kepada Sang Maha Kuasa dan meminta petunjuk jalan terbaik atas
hubunganku dengan Fajar. Belum selesai aku berdo’a Hp-ku berbunyi, aku percepat
bacaan do’aku dan langsung membuka pesan Hp-ku. Ternyata pesan itu datang dari
kekasihku Fajar yang isinya : ”Bidadariku... sudahkah melaksanakan qiyamul lail[1]??
Allah menantikanmu untuk memadu kasih, sajadahmu pasti sangatlah rindu padamuJ”.
Aku tersenyum membaca pesan darinya dan
secepatnya akumengetik pesan untuknya : ”Iya... baru saja selesai. Oh ya... mas[2] Fajar
kita tidak mungkin bisa menikah... ayahku menolak hubungan kita, mas tentu tahu
apa penyebabnya bukan? Semalam ayah memintaku untuk memutuskan hubungan kita...
Tetapi, Atin mau kita tetap berjuang... Atin
minta mas bisa membuktikan bahwa mas adalah seorang imam yang bertanggung jawab
dan terbaik untuk Atin,,, Atin sayang mas Fajar”. Tidak lama kemudian, balasan
datang darinya. Ia menjawab singkat pesanku yang isinya : ”Iya, mas pasrahkan
kepada-NYA”.
***
Semenjak
malam itu, mas Fajar tidak lagi menghubungiku. Dan tidak ada yang bisa dihubungi
untuk mengetahui kabarnya. Hatiku bertanya-tanya ”Ada apa dengan mas Fajar, Kemana perginya ?”. Di masjid aku tidak bertemu dia, orang yang
sangat aku rindukan, betapa sedih hatiku dia menghilang begitu saja. Saat perjalanan
pulang ketika aku hendak memasuki lorong rumahku, ada seseorang yang
memanggilku.
”Mbak[3]....
tunggu mbak”.
Aku
pun bergegas menoleh dan tersenyum padanya, ”ada apa Nisa ?”.
”Mbak..
ada titipan untuk mbak”.
”Titipan
?? Titipan apa ? Dari siapa ?”. Dalam hati aku berharap ini ada hubunganya
dengan mas Fajar. Karena, hanya Anissa sahabatku yang mengetahui bagaimana
keadaan hubunganku dengan mas Fajar.
”Iya
mbakk.. untuk mbak.. hmm ini dari mas Fajar mbak”. Nisa mengeluarkan bingkisan
kecil berwarna hijau putih. Itu warna kesukaanku.
”Oh..
terimaksih Nisa... Nisa kemana mas Fajar
pergi ?”.
”Ma’af
mbak,,, Nisa tidak tahu dan mas Fajar pun tidak berkata apa-apa. Nisa juga
tidak tahu kalau mas Fajar pergi meninggalkan kita”.
”Baiklah...
terimakasih banyak Nisa, aku pulang dulu ya,,”.
Sesampainya
di rumah aku langsung masuk ke kamar, aku sudah tidak sabar lagi ingin tahu apa
yang terjadi sebenarnya dengan mas Fajar. Hatiku berdebar-debar membuka bingkisan
yang baru saja aku terima. Isi dari bingkisan itu adalah Al-Qur’an kecil
lengkap dengan terjemahnya dan juga selembar surat.
Teruntuk bidadariku
Salbilqis Atiin yang di cintai
Allah
Assalam’alaikum Wr. Wb.
Hidup ini terlalu berharga untuk di
sia-siakan. Masa lalu adalah cambukan untuk menyambut masa depan yang lebih
baik. Walaupun terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyatanya
karena Allah telah menyiapkan yang terbaik dan lebih baik dari yang kita
inginkan.
Maafkan mas yang pergi secara
tiba-tiba dan tanpa mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Aku hanya tidak
ingin melihat raut wajah kesedihan dan juga air matamu, karena mas tidak
sanggup melihatnya.... ma’afkan bila mas terkesan pengecut. Namun, mas yakin
ini yang terbaik untuk kita sementara ini adalah berpisah.
Bidadariku... janganlah kau risau,
kita percayakan semuanya kepada Allah bahwa suatu hari nanti akan menyatukan
kita kembali dalam ikatan suci pernikahan seperti yang kita harapakan bersama-sama.
Mas hanya pergi sementara untuk membuktikan kepada semua orang dan khususnya
kepada keluargamu bahwa mas mencintaimu karena Allah bukan karena harta
keluargamu. Tetapi, semua kembali kepada Allah yang maha atas segala sesuatu.
Jaga hati dan dirimu baik-baik...
semoga Al-qur’an kecil ini bisa menjadi pengobat rindumu kepadaku.
Bidadariku... di penghujung setiap malam aku akan senang tiasa setia menantimu
di atas sajadah. Dimana kita bisa mencurahkan semua isi hati kita yang akan
selalu terjaga kerahasiaanya.
Wassalam’alaikum Wr. Wb
Dari kekasihmu,
Fajar Sabiqul R.
Butiran
bening mengalir deras di pipiku sehingga membasahi Selembar kertas yang dituliskan
oleh mas Fajar yang masih kupegang. Tidak sanggup aku membendung perasaanku ”Aku sangat mencintainya”. Namun, ternyata
jalan ini yang harus ditempuh, sebuah jalan yang sudah diputuskan oleh mas
Fajar.
***
Sudah
hampir dua tahun mas Fajar meninggalkanku. Dan setiap awal bulan aku selalu
menerima surat yang dititipkan mas Fajar pada Anissa. Aku tidak mengerti
mengapa mas Fajar bersikap demikian. Isi suratnya mengingatkanku dan
menasehatiku untuk selalu bersabar dan tetap komitmen menjalani kehidupan ini.
Setiap
disepertiga malam, aku selalu terjaga dan aku bentangkan sajadahku memohon agar
Allah selalu menguatkan hatiku dan melindungi mas Fajar serta menjaga hatinya
untuku. Tidak lupa hadiah terakhir sebelum kepergianya yaitu Al-Qur’an kecil, selalu aku membacanya sebagai pengobat rinduku.
Bahkan hampir setiap malam, aku membaca surat-surat darinya.
Aku
masih setia menantinya, seperti halnya dia yang masih setia berjuang jauh disana
untuk bisa bersamaku kelak. Terkadang aku berfikir semua ini tidak adil
untuknya. Tetapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdo’a
untuknya dan berharap dia segera kembali.
***
Ini
sudah hampir memasuki tuhun ketiga dimana mas Fajar meninggalkanku. Aku menerima
surat dari mas Fajar yang dititipkan lewat Anissa. Aku sangat bahagia menerima
suratnya, karena mas Fajar akan kembali.
Namun, apa yang ia janjikan untuk segera pulang. Ternyata sampai akhir bulan
mas Fajar tidak menunjukan tanda - tanda pulang. Bahkan, surat yang setiap
bulan aku terima lewat Anissa tidak ada lagi.
Malam
ini terasa sangat dingin, aku merasa malas untuk mengambil air wudhu. Akan
tetapi, aku paksakan untuk tetap melaksanakan apa yang sudah menjadi
rutinitasku disetiap penghujung malam. Aku bentangkan perlahan sejadah hijauku dan
mulai melaksanakan qiyamul lail. Disaat sujud terakhir, aku merasakan hal yang
sedikit ganjil, tubuhku terasa menggigil dan aku seperti merasakan hadirnya
seseorang. Tetapi, ketika aku mengucapkan salam mengakhiri sholatku ternyata
tidak ada siapa-siapa. Setelah itu aku sudah tidak menghiraukan semua itu,
langsung saja aku berdo’a yang sebagaimana selama ini aku panjatkan agar Allah
tetap menjaga utuh hatiku dan hatinya mas Fajar dan memberikan yang terbaik
untuk kami. Selesai berdo’a aku mengambil Al-Qur’an, ketika aku akan membuka
ternyata Hp-ku berdering. Namun, tidak aku hiraukan dan aku masih tetap
melanjutkan membaca ayat - ayat Al-Qu’an. Ketika ayat terakhir yang aku baca, aku
seakan melihat wajah mas Fajar yang tersenyum padaku dan secepatnya wajah itu
sirna dari hadapanku. ”Ah,,, rupanya aku hanya berhalusinasi”, gumamku dalam
hati.
Setelah
semua aku rapikan, Hp-ku berbunyi lagi untuk ke dua kalinya. Aku mengambilnya
dan ternyata nomor tidak di kenal yang telah menghubungiku. Aku bertanya dalam
hati, ”Siapakah orang yang menghubungiku ini ?”. Aku ragu untuk mengangkatnya.
Betapa leganya aku kerena Hp-ku berhenti berbunyi. Belum hilang rasa
penasaranku, pintu kamarku diketuk dan terdengar suara ibuku memanggil. ”Nduk[4]....
keluarlah, ini ada Anissa datang kemari”.
”Iya Bu, sebentar... Atin merapikan jilbab
dulu”. Aku bertanya-tanya dalm hati, ”Ada apa masih pagi-pagi sekali Nisa datang
kemari?”. Tidak sabar aku ingin mengetahui hal itu. Segera aku menuju pintu
kamar dan membukakan kunci kamarku.
”Atiiiinnnn...”.
Anissa langsung memelukku, kulihat raut kesedihan di wajah Nisa sahabatku itu.
Sungguh aku tidak tega melihatnya.
”Ada
apa Nisa... katakanlah jangan membuatku bingung... ada apa sebenarnya? mengapa
pagi-pagi sekali bahkan ini belum subuh kamu kesini? Ada hal penting apa
Nisa??”. Maklum, aku sangat panik. Aku tidak pernah melihat Anissa sesedih ini
sebelumnya.
”Ehmmm...
maa-sss Fa-Fa-jar... Atinnn”. Dengan terbata-bata Nisa menyebut nama mas Fajar.
Aku pun semakin tidak mengerti kenapa Nisa menyebut kekasihku yang selalu aku
rindukan itu.
”Ada
apa dengan mas Fajar? Apa yang terjadi dengan mas Fajar?”, perasaanku campur
aduk dan sangat tidak tenang.
Anissa
tidak menjawab pertanyaanku barusan, air mata membasahi pipinya. Aku semakin
penasaran dibuatnya. Sampai akhirnya Hp-ku berbunyi lagi dan masih nomor yang
tidak aku kenal. Tetapi, kali ini aku putuskan untuk menjawabnya.
”Selamat
pagi, apa benar ini dengan Saudari
Atin?”.
”Iya
Pak, dengan saya sendiri ada apa ya?”.
”Ma’af
kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan, bahwa Saudara Fajar kecelakan dan
sekarang dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Harapan”.
Tubuhku
lemas seketika, dan air mata meleleh di pipiku. Setelah itu aku tidak ingat
apa-apa lagi, yang aku rasakan tubuhku seperti melayang. Ketika aku bangun Anissa
masih disampingku, aku dikelilingi semua anggota keluargaku.
”Ayah....
izinkan aku melihatnya”, pintaku pelan.
”Tidak,,,
Ayah sudah terlanjur menerima lamaran seseorang. Dia pemuda pilihan ayah. Dan
nanti pagi keluarganya datang kemari”.
Betapa
aku sangat terkejut, selama ini ayah tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Tetapi,
kenapa hari ini aku baru mengetahuinya.
”Ayah...
Atin mohon,,, untuk terakhir kalinya Ayah izinkan aku melihatnya”.
”Baiklah...”
***
Aku
dan Nisa serta diantar Ayah-Ibuku menuju RS. Harapan. Berkecambuk perasaanku
antara bahagia akan melihatnya kembali dan juga sekaligus sedih karena ini akan
menjadi yang terakhir kalinya. Sesampainya di RS. Harapan aku segera berlari
menuju ruangan dimana tempat mas Fajar di rawat. Sedangkan Anissa dan orang
tuaku menunggu diluar ruangan bersama keluarganya mas Fajar. Di ruangan yang
serba putih itu , aku melihatnya yang selama ini aku rindukan tergeletak tidak
berdaya. Aku sapa mas Fajar dan aku berusaha menyembunyikan kesedihanku.
”Assalamu’alaikum...
mas”.
”Wa’alaikumsalam..
Atiinn sama siapa ke sini?”.
”Bersama
Nisa dan keluargaku mas”.
Mas
Fajar hanya membalasnya dengan senyum, tidak lama dari itu Anissa dan orang
tuaku menyusul. Namun, wajah mereka tampak sendu.
”Ada
apa Ayah, Ibu, Nissa?”.
”Ma’afkan
Ayah... Nak, Ayah sudah salah menilai Fajar. Dia anak yang baik, dia
mencintaimu bukan karena apa-apa. Mulai sekarang Ayah akan merestui hubungan
kalian”.
”Benarkah
Ayah?...” sungguh aku tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan ayahku.
”Iya...
Nak, dan hari ini juga kita laksanakan akad pernikahan kalian”.
”Ayah??,,,
bagaimana dengan pemuda yang sudah ayah terima lamaranya?”.
Seraya
tersenyum ayah berkata : ” Dia bukan yang terbaik untukmu dan dia sudah
memutuskannya”.
Hari
ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku sekaligus bertepatan dengan
hari ulang tahunku. Walaupun pelaksanaan akad nikah berada di Rumah Sakti.
Tetapi, semuanya berlangsung sangat hikmat.
Di
penghujung malam, dimana ini adalah malam pertama pernikahanku dengan mas Fajar
dan pertama kalinya-lah kami melaksanakan shalat qiyamul lail bersama.
Meskipun, keadaan mas Fajar masih terbaring lemah di tempat tidur. Setelah
selesai melaksanakan shalat, mas Fajar memanggilku dengan panggilan yang sangat
Aku rindukan.
”Istriku
sayang,,,,”.
”Iya
mas...”.
”Bolehkah
mas meminta sesuatu?”.
”Iya
mas... silahkan”.
”Mas
ingin mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari bibir manismu,,,,
wahai istriku sayang”.
Aku
pun menuruti permintaanya dan ternyata itu adalah permintaan terakhirnya.
Setelah aku selesai membacakan ayat-ayat suci untuknya. Aku hanya bisa
memandang senyum kecil di bibirnya.
Kenyataan
ini yang harus aku terima. Walaupun, keadaan mas Fajar mulai membaik namun ternyata
mas Fajar mengidap penyakit kanker yang sudah stadium akhir sebelum kecelakaan
itu terjadi. Duka menyelimuti hatiku, namun aku sadar bahwa aku tidak berhak
untuk menolak kenyataan pahit yang terjadi.
***
Setelah
kepergian mas Fajar, aku memilih untuk hidup sendiri. Namun, kini aku menjalani hari-hariku bersama seorang
anak yang aku ambil dari panti asuhan. Aku ingin menjaga utuh cintaku pada
suamiku, sampai ajal menjemputku. Dan sekarang aku membuka sebuah yayasan untuk
anak-anak yang kurang beruntung. Sehingga, aku tidak terlalu larut dalam
kesedihan ditinggal oleh mas Fajar, suamiku. Disetiap penghujung malam, aku
selalu berdoa’a semoga kelak Allah menyatukan kami kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar