Sabtu, 22 Agustus 2015

DI PENGHUJUNG MALAM

’’Putuskan hubunganmu !!!”, pinta ayah kepadaku. Ini kenyataan pahit yang harus aku terima, dimana hubunganku tidak direstui oleh beliau. Aku menyadari dia hanyalah seorang pemuda biasa. Namun, cintanya sangat luar biasa kepadaku. ’’Ayah... tidak mungkin Atin memutuskan dia. Atin sangat menyayangi dia !!!  Atin cinta dia karena Allah, Yah”. Ucapku kepada ayahku dengan wajah berharap dan tidak kuasa aku menahan butiran bening mengalir di pipiku. ”Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, Atin”.
Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan ayahku lagi, aku  bergegas masuk ke kamarku dan melanjutkan tangisku  sampai akhirnya aku tertidur pulas. Jarum jam menunjukkan pukul 02:20. Aku segera bangun dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat malam, setelah itu aku curahkan semua isi hatiku kepada Sang Maha Kuasa dan meminta petunjuk jalan terbaik atas hubunganku dengan Fajar. Belum selesai aku berdo’a Hp-ku berbunyi, aku percepat bacaan do’aku dan langsung membuka pesan Hp-ku. Ternyata pesan itu datang dari kekasihku Fajar yang isinya : ”Bidadariku... sudahkah melaksanakan qiyamul lail[1]?? Allah menantikanmu untuk memadu kasih, sajadahmu pasti sangatlah rindu padamuJ”.  Aku tersenyum membaca pesan darinya dan secepatnya akumengetik pesan untuknya : ”Iya... baru saja selesai. Oh ya... mas[2] Fajar kita tidak mungkin bisa menikah... ayahku menolak hubungan kita, mas tentu tahu apa penyebabnya bukan? Semalam ayah memintaku untuk memutuskan hubungan kita... Tetapi,  Atin mau kita tetap berjuang... Atin minta mas bisa membuktikan bahwa mas adalah seorang imam yang bertanggung jawab dan terbaik untuk Atin,,, Atin sayang mas Fajar”. Tidak lama kemudian, balasan datang darinya. Ia menjawab singkat pesanku yang isinya : ”Iya, mas pasrahkan kepada-NYA”.
***
Semenjak malam itu, mas Fajar tidak lagi menghubungiku. Dan tidak ada yang bisa dihubungi untuk mengetahui kabarnya. Hatiku bertanya-tanya ”Ada apa dengan mas Fajar,  Kemana perginya ?”.  Di masjid aku tidak bertemu dia, orang yang sangat aku rindukan, betapa sedih hatiku dia menghilang begitu saja. Saat perjalanan pulang ketika aku hendak memasuki lorong rumahku, ada seseorang yang memanggilku.
”Mbak[3].... tunggu mbak”.
Aku pun bergegas menoleh dan tersenyum padanya, ”ada apa Nisa ?”.
”Mbak.. ada titipan untuk mbak”.
”Titipan ?? Titipan apa ? Dari siapa ?”. Dalam hati aku berharap ini ada hubunganya dengan mas Fajar. Karena, hanya Anissa sahabatku yang mengetahui bagaimana keadaan hubunganku dengan mas Fajar.
”Iya mbakk.. untuk mbak.. hmm ini dari mas Fajar mbak”. Nisa mengeluarkan bingkisan kecil berwarna hijau putih. Itu warna kesukaanku.
”Oh.. terimaksih Nisa...  Nisa kemana mas Fajar pergi ?”.
”Ma’af mbak,,, Nisa tidak tahu dan mas Fajar pun tidak berkata apa-apa. Nisa juga tidak tahu kalau mas Fajar pergi meninggalkan kita”.
”Baiklah... terimakasih banyak Nisa, aku pulang dulu ya,,”.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar, aku sudah tidak sabar lagi ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan mas Fajar. Hatiku berdebar-debar membuka bingkisan yang baru saja aku terima. Isi dari bingkisan itu adalah Al-Qur’an kecil lengkap dengan terjemahnya dan juga selembar surat.
Teruntuk bidadariku
Salbilqis Atiin yang di cintai Allah
Assalam’alaikum Wr. Wb.
Hidup ini terlalu berharga untuk di sia-siakan. Masa lalu adalah cambukan untuk menyambut masa depan yang lebih baik. Walaupun terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyatanya karena Allah telah menyiapkan yang terbaik dan lebih baik dari yang kita inginkan.
Maafkan mas yang pergi secara tiba-tiba dan tanpa mengatakannya terlebih dahulu kepadamu. Aku hanya tidak ingin melihat raut wajah kesedihan dan juga air matamu, karena mas tidak sanggup melihatnya.... ma’afkan bila mas terkesan pengecut. Namun, mas yakin ini yang terbaik untuk kita sementara ini adalah berpisah.
Bidadariku... janganlah kau risau, kita percayakan semuanya kepada Allah bahwa suatu hari nanti akan menyatukan kita kembali dalam ikatan suci pernikahan seperti yang kita harapakan bersama-sama. Mas hanya pergi sementara untuk membuktikan kepada semua orang dan khususnya kepada keluargamu bahwa mas mencintaimu karena Allah bukan karena harta keluargamu. Tetapi, semua kembali kepada Allah yang maha atas segala sesuatu.
Jaga hati dan dirimu baik-baik... semoga Al-qur’an kecil ini bisa menjadi pengobat rindumu kepadaku. Bidadariku... di penghujung setiap malam aku akan senang tiasa setia menantimu di atas sajadah. Dimana kita bisa mencurahkan semua isi hati kita yang akan selalu terjaga kerahasiaanya.
Wassalam’alaikum Wr. Wb
Dari kekasihmu,
Fajar Sabiqul R.
Butiran bening mengalir deras di pipiku sehingga membasahi Selembar kertas yang dituliskan oleh mas Fajar yang masih kupegang. Tidak sanggup aku membendung perasaanku  ”Aku sangat mencintainya”. Namun, ternyata jalan ini yang harus ditempuh, sebuah jalan yang sudah diputuskan oleh mas Fajar.
***
Sudah hampir dua tahun mas Fajar meninggalkanku. Dan setiap awal bulan aku selalu menerima surat yang dititipkan mas Fajar pada Anissa. Aku tidak mengerti mengapa mas Fajar bersikap demikian. Isi suratnya mengingatkanku dan menasehatiku untuk selalu bersabar dan tetap komitmen menjalani kehidupan ini.
Setiap disepertiga malam, aku selalu terjaga dan aku bentangkan sajadahku memohon agar Allah selalu menguatkan hatiku dan melindungi mas Fajar serta menjaga hatinya untuku. Tidak lupa hadiah terakhir sebelum kepergianya yaitu Al-Qur’an kecil,  selalu aku membacanya sebagai pengobat rinduku. Bahkan hampir setiap malam, aku membaca surat-surat darinya.
Aku masih setia menantinya, seperti halnya dia yang masih setia berjuang jauh disana untuk bisa bersamaku kelak. Terkadang aku berfikir semua ini tidak adil untuknya. Tetapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdo’a untuknya dan berharap dia segera kembali.
***
Ini sudah hampir memasuki tuhun ketiga dimana mas Fajar meninggalkanku. Aku menerima surat dari mas Fajar yang dititipkan lewat Anissa. Aku sangat bahagia menerima suratnya,  karena mas Fajar akan kembali. Namun, apa yang ia janjikan untuk segera pulang. Ternyata sampai akhir bulan mas Fajar tidak menunjukan tanda - tanda pulang. Bahkan, surat yang setiap bulan aku terima lewat Anissa tidak ada lagi.
Malam ini terasa sangat dingin, aku merasa malas untuk mengambil air wudhu. Akan tetapi, aku paksakan untuk tetap melaksanakan apa yang sudah menjadi rutinitasku disetiap penghujung malam. Aku bentangkan perlahan sejadah hijauku dan mulai melaksanakan qiyamul lail. Disaat sujud terakhir, aku merasakan hal yang sedikit ganjil, tubuhku terasa menggigil dan aku seperti merasakan hadirnya seseorang. Tetapi, ketika aku mengucapkan salam mengakhiri sholatku ternyata tidak ada siapa-siapa. Setelah itu aku sudah tidak menghiraukan semua itu, langsung saja aku berdo’a yang sebagaimana selama ini aku panjatkan agar Allah tetap menjaga utuh hatiku dan hatinya mas Fajar dan memberikan yang terbaik untuk kami. Selesai berdo’a aku mengambil Al-Qur’an, ketika aku akan membuka ternyata Hp-ku berdering. Namun, tidak aku hiraukan dan aku masih tetap melanjutkan membaca ayat - ayat Al-Qu’an. Ketika ayat terakhir yang aku baca, aku seakan melihat wajah mas Fajar yang tersenyum padaku dan secepatnya wajah itu sirna dari hadapanku. ”Ah,,, rupanya aku hanya berhalusinasi”, gumamku dalam hati.
Setelah semua aku rapikan, Hp-ku berbunyi lagi untuk ke dua kalinya. Aku mengambilnya dan ternyata nomor tidak di kenal yang telah menghubungiku. Aku bertanya dalam hati, ”Siapakah orang yang menghubungiku ini ?”. Aku ragu untuk mengangkatnya. Betapa leganya aku kerena Hp-ku berhenti berbunyi. Belum hilang rasa penasaranku, pintu kamarku diketuk dan terdengar suara ibuku memanggil. ”Nduk[4].... keluarlah, ini ada Anissa datang kemari”.
 ”Iya Bu, sebentar... Atin merapikan jilbab dulu”. Aku bertanya-tanya dalm hati, ”Ada apa masih pagi-pagi sekali Nisa datang kemari?”. Tidak sabar aku ingin mengetahui hal itu. Segera aku menuju pintu kamar dan membukakan kunci kamarku.
”Atiiiinnnn...”. Anissa langsung memelukku, kulihat raut kesedihan di wajah Nisa sahabatku itu. Sungguh aku tidak tega melihatnya.
”Ada apa Nisa... katakanlah jangan membuatku bingung... ada apa sebenarnya? mengapa pagi-pagi sekali bahkan ini belum subuh kamu kesini? Ada hal penting apa Nisa??”. Maklum, aku sangat panik. Aku tidak pernah melihat Anissa sesedih ini sebelumnya.
”Ehmmm... maa-sss Fa-Fa-jar... Atinnn”. Dengan terbata-bata Nisa menyebut nama mas Fajar. Aku pun semakin tidak mengerti kenapa Nisa menyebut kekasihku yang selalu aku rindukan itu.
”Ada apa dengan mas Fajar? Apa yang terjadi dengan mas Fajar?”, perasaanku campur aduk dan sangat tidak tenang.
Anissa tidak menjawab pertanyaanku barusan, air mata membasahi pipinya. Aku semakin penasaran dibuatnya. Sampai akhirnya Hp-ku berbunyi lagi dan masih nomor yang tidak aku kenal. Tetapi, kali ini aku putuskan untuk menjawabnya.
”Selamat pagi, apa benar ini dengan  Saudari Atin?”.
”Iya Pak, dengan saya sendiri ada apa ya?”.
”Ma’af kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan, bahwa Saudara Fajar kecelakan dan sekarang dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Harapan”.
Tubuhku lemas seketika, dan air mata meleleh di pipiku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, yang aku rasakan tubuhku seperti melayang. Ketika aku bangun Anissa masih disampingku, aku dikelilingi semua anggota keluargaku.
”Ayah.... izinkan aku melihatnya”, pintaku pelan.
”Tidak,,, Ayah sudah terlanjur menerima lamaran seseorang. Dia pemuda pilihan ayah. Dan nanti pagi keluarganya datang kemari”.
Betapa aku sangat terkejut, selama ini ayah tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Tetapi, kenapa hari ini aku baru mengetahuinya.
”Ayah... Atin mohon,,, untuk terakhir kalinya Ayah izinkan aku melihatnya”.
”Baiklah...”
***
Aku dan Nisa serta diantar Ayah-Ibuku menuju RS. Harapan. Berkecambuk perasaanku antara bahagia akan melihatnya kembali dan juga sekaligus sedih karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Sesampainya di RS. Harapan aku segera berlari menuju ruangan dimana tempat mas Fajar di rawat. Sedangkan Anissa dan orang tuaku menunggu diluar ruangan bersama keluarganya mas Fajar. Di ruangan yang serba putih itu , aku melihatnya yang selama ini aku rindukan tergeletak tidak berdaya. Aku sapa mas Fajar dan aku berusaha menyembunyikan kesedihanku.
”Assalamu’alaikum... mas”.
”Wa’alaikumsalam.. Atiinn sama siapa ke sini?”.
”Bersama Nisa dan keluargaku mas”.
Mas Fajar hanya membalasnya dengan senyum, tidak lama dari itu Anissa dan orang tuaku menyusul. Namun, wajah mereka tampak sendu.
”Ada apa Ayah, Ibu, Nissa?”.
”Ma’afkan Ayah... Nak, Ayah sudah salah menilai Fajar. Dia anak yang baik, dia mencintaimu bukan karena apa-apa. Mulai sekarang Ayah akan merestui hubungan kalian”.
”Benarkah Ayah?...” sungguh aku tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan ayahku.
”Iya... Nak, dan hari ini juga kita laksanakan akad pernikahan kalian”.
”Ayah??,,, bagaimana dengan pemuda yang sudah ayah terima lamaranya?”.
Seraya tersenyum ayah berkata : ” Dia bukan yang terbaik untukmu dan dia sudah memutuskannya”.
Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahunku. Walaupun pelaksanaan akad nikah berada di Rumah Sakti. Tetapi, semuanya berlangsung sangat hikmat.
Di penghujung malam, dimana ini adalah malam pertama pernikahanku dengan mas Fajar dan pertama kalinya-lah kami melaksanakan shalat qiyamul lail bersama. Meskipun, keadaan mas Fajar masih terbaring lemah di tempat tidur. Setelah selesai melaksanakan shalat, mas Fajar memanggilku dengan panggilan yang sangat Aku rindukan.
”Istriku sayang,,,,”.
”Iya mas...”.
”Bolehkah mas meminta sesuatu?”.
”Iya mas... silahkan”.
”Mas ingin mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari bibir manismu,,,, wahai istriku sayang”.
Aku pun menuruti permintaanya dan ternyata itu adalah permintaan terakhirnya. Setelah aku selesai membacakan ayat-ayat suci untuknya. Aku hanya bisa memandang senyum kecil di bibirnya.
Kenyataan ini yang harus aku terima. Walaupun,  keadaan mas Fajar mulai membaik namun ternyata mas Fajar mengidap penyakit kanker yang sudah stadium akhir sebelum kecelakaan itu terjadi. Duka menyelimuti hatiku, namun aku sadar bahwa aku tidak berhak untuk menolak kenyataan pahit yang terjadi.
***
Setelah kepergian mas Fajar, aku memilih untuk hidup sendiri. Namun,  kini aku menjalani hari-hariku bersama seorang anak yang aku ambil dari panti asuhan. Aku ingin menjaga utuh cintaku pada suamiku, sampai ajal menjemputku. Dan sekarang aku membuka sebuah yayasan untuk anak-anak yang kurang beruntung. Sehingga, aku tidak terlalu larut dalam kesedihan ditinggal oleh mas Fajar, suamiku. Disetiap penghujung malam, aku selalu berdoa’a semoga kelak Allah menyatukan kami kembali.


[1] Sholat malam.
[2] Panggilan untuk laki-laki Jawa.
[3] Panggilan untuk wanita Jawa.
[4] Sebutan untuk anak perempuan Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar