Oktober, 2009
Malam
semakin larut. Aku belum bisa memejamkan kedua mataku. Jantungku berdebar
kencang, aku gugup untuk menghadapi hari esok. Hmm... besok aku mewakili
sekolahku untuk mengikuti lomba cerdas cermat. Peserta diwajibkan mengenakan
jilbab. Bukan masalah pakaian yang membuat hatiku risau, karena aku sudah
meminjam pakaian sekolah temanku yang suadah memakai jilbab. Aku memikirkan
bagaimana tanggapan teman-teman sekelasku yang melihatku memakai seragam
sekolah dengan memakai jilbab. Aku berusaha menepis semua prasangka burukku.
”Huft... lihat saja besok, apapun yang terjadi biarlah”, pikirku dalam hati.
Aku bangun
pagi-pagi sekali, setelah merapikan tempat tidur aku melaksanakan tugas yang
menjadi rutinitasku sehari-hari. Aku terpaku di depan cermin,,, ”hmm... ternyata
aku cantik juga memakai jilbab hijau pupus ini,, ahh... aku memuji diriku
sendiri”, dalam hati hati aku tertawa kecil. Segala sesuatu telah aku
persiapkan semua. Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolahku.aku berpamitan
kepada ibuku dan tak lupa meminta do’a restunya.
Sesampainya
di sekolah, ternyata tanggapan positif dari teman-temanku semua. Bahkan mereka
memujiku dan berharap aku benar-benar memakai hijab. Teman-teman sekelasku
belum ada yang memakai jilbab satupun. Mereka bilang ”belum siap”. Aku sadar
rata-rata temanku tinggal di perkotaan. Jadi, pengaruh lingkungan yang belum
mendukung. Karena kebanyakan remaja disini memakai pakaian terbuka, tapi
meskipun demikian pakaian mereka masih sopan. Hanya saja kurang tertutup
sedikit. Hehe,, termasuk aku.
Sebenarnya
aku ingin sekali segera hijrah menggunakan hijab secara utuh. Namun, banyak
kendala yang harus aku hadapi. Walaupun, keluarga tidak melarangku memakai
hijab. Tetapi meraka ragu, apakah aku masih akan tetap istiqomah menutup
auratku secara utuh. Pernah aku mengutarakan niatku kepada ibuku. Namun, beliau
menolak dengan alasan tidak ada dana untuk mengganti seragam-seragam sekolahku.
Aku mengerti kondisi keuangan keluargaku pada saat itu. Banyak sekali
pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh orang tuaku utuk biaya sekolahku.
Apalagi jarak antara sekolah dengan rumahku cukup jauh. Jadi, setiap hari harus
ada uang ekstra. Meskipun begitu aku tetap bertekad untuk bisa mengenakan
jilbab. Yach... mungkin dengan mengikuti lomba ini aku bisa mewujudkan
impianku.
Allah
berkehendak lain, timku tidak memenangkan perlombaan. Terjadi kecurangan dari
tim lain. Apa boleh buat timku pulang dengan tangan kossong dan penuh rasa
kekecewaan. Aku kecewa pada diriku sendiri. Harapanku untuk segera memakai
jilbab pupus.
Desember, 2009
Hari-hari
yang mendebarkan. Namun, yang paling dinantikan oleh semua siswa-siswi SMK
negeri 01 OKU. Betapa tidak? Karena, hari ini adalah hari pembagian hasil
belajar. Hati sangat berharap untuk dapat masuk dalam tiga besar, agar aku bisa
meminta kepada ayahku untuk mengabulkan impianku selama ini yaitu mengenakan
hijab. Sebaga hadiah, aku memperoleh peringkat. Alhamdulillah,,, allah
mengabulkan do’aku. Namun sayang, belum sempat aku bicarakan kepada ayahku.
Ternyata, ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi yaitu membayar kursus Mayob
Akuntansi yang sifatnya wajib dari sekolah. Aku mengurungkan niatku. Tetapi,
membuat hatiku semakin menggebu-gebu sebuah kerinduan untuk segera menggenakan
jilbab.
Januari, 2010
Aku duduk
termangu di depan kelas.hatiku merasa iri dan cemburu melihat adik kelasku
sudah menggunakan hijab. Dia tampak terlihat sangat anggun dan juga cantik.
Wajah bulatnya terbalut oleh kain suci. Sungguh aku sangat iri.
Keesokan
harinya, setelah aku selesai membersihkan ruangan kelas. Aku duduk santai di
depan kelasku bersama teman-temanku. Tidak lama dari itu temanku Fita, lewat di
depan kelasku. Ada yang berubah darinya. Hmm... dia sudah menggunakan hijab.
Fita adalah teman metoringku di sekolah. Selain Fita yang ikut eskul Rohis yaitu
Uki’, Tika, Rahma dan Fitri. Sebelum ikut Rohis, kami belum ada yang
menggunakan jilbab. Teman sekelasku, Sandra menepuk bahuku. Membuyarkan
lamunanku.
”Umi,,,
kapan umi pakai jilbab?? Itu lho... jingok-lah[1] Fita
sudah pakai jilbab,, umi pasti cantik dech dan sudah cocok pakai jilbab”.
Yach... umi, begitulah teman-teman sekelas memanggilku. Entahlah, apa yang
menyebabkan mereka memanggilku demikian. Mungkin, karena mereka nyaman apabila
curhat denganku.
”Ehh,,,
iya.... Aku ingin sekali. Haaaaaahhh,,,,,”. Aku menghembuskan nafas panjang.
Sambila
tersennyum dia berkata: ”semoga segera... ya umi,,,”.
”Aminnn...”.
Maret, 2010
Aku
terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat UUD 1945 dan Tap. MPR. Tahun
kemarin aku sudah mengikuti seleksi untuk mengikuti lomba ini. Jadi, tahun ini
aku mengikuti tanpa seleksi lagi. Aku sangat bersemangat dan aku juga yakin
bisa masuk final. Bermodal dari pengalaman tahun lalu, dimana timku dapat masuk
final. Kami memperoleh juara harapan satu dan memperoleh uang pembinaan sebesar
Rp 2.000.000,00-.namun, ternyata Allahmempunyai rencana lain. Seminggu sebelum
pelaksanaan lomba, aku mengalami kecelakaan. Sehingga, aku tidak bisa ikut
latihan bersama teman-teman lainya guna mengasah kembali materi-materi yang
akan dilombakan dan juga gerakan-gerakan kreasi yang ditampilkan, sebelum kami
menjawab pertanyaan dari dewan juri. Padahal aku sebagai juru bicaranya.
Hasilnya pun sangat mengecewakan. Dari kejadian itu aku mulai mengubur impianku
untuk memakai hijab. ”mungkin setelah aku lulus, aku baru bisa memakai hijab”.
Harapku dalam hati.
Juli, 2010
Teman-teman
metoringku yaitu Fita, Tika, dan Uki’ sudah hijrah untuk memantapkan hati
menggunakan jilbab. Aku semakin rindu, rindu untuk segera memakai hijab. Kakak
kelasku Ayuk[2]
Siti yang juga ikut ekskul Rohis, sudah berangkat melanjutkan kuliah di Jogja.
Padahal, aku ingin meminta seragam sekolahnya. Tetapi, Allah membuka jalan
lain, lewat adiknya aku bisa mengambil seragam di rumahnya. Aku mendapatkan
beberapa stel seragam. Tinggal sekarag aku memikirkan seragam kejuruan. Karena,
seragam kejuruan aku dengan yuk Siti berbeda. Jalanku untuk memakai jilbab
semakin terbuka lebar. Selama libur semester genab, aku berkerja dan hasil dari
kerjaku cukup untuk membeli seragam baru kejuruan.
Ramadhan 1431 H
Selesai
melaksanakan sholat tarawih, aku tidak langsung pulang. Aku berniat untuk ikut
tadarusan Al-Qur’an. Ketika aku bergabung dengan teman-teman lainya,
dihadapanku ada seorang pemuda yang membuat hati tidak karuan. Namun, aku
berusaha untuk mengendalikan itu semua. Semenjak saat itu sedikit dekat
dengannya. Dia seorang ikhwan yang sangat taat, aku ingin dekat denganya untuk
bisa belajar banyak tentang agama. Keputusan dan kesiapanku untuk berhijrah
memakai hijab juga didukung kuat olehnya. Pemuda-pemuda yang selama ini
menggangguku ketika aku pulang dari masjid ataupun keluar rumah, sudah tidak
seheboh pada waktu aku belum menggunakan jilbab.
Benar
adanya, bahwa janji Allah akan ditepatinya. Dari dulu aku percaya dan yakin
bahwa orang yang dekat dengan kita tidak berbeda jauh dari diri kita. Bisa di
atas ataupun dibawah kita. Sebagaimana firman Allah swt. Dalam Al-Qur’an surat
An-nur ayat 26.
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang
keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh
mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).[3]
September, 2010
Setelah liburan
semester genab, awal aku masuk kembali ke sekolah. Pagi ini ada yang berubah
dalam diriku. Bukan hanya pada penampilanku yang sekarang mengenakan hijab ke
sekolah. Tetapi, perasaan bahagia dan haru. Dimana sebuah nasib ditentukan oleh
manusia sendiri karena hidup adalah pilihan dan lainya terserah kepada Allah
Yang Maha Kuasa.
Aku menuju kelasku
dengan perasaan berkecambuk. Pertemuran antara rasa optimis dan pesimis
terhadap tanggapan dari teman-teman dan juga guru-guruku.
”Assalam’alaikum....”.aku
sapa teman-temanku yang sudah berada di kelas sebelum aku datang. Suasana kelas
masih lumayan sepi, karena belaum banyak yang datang. Terlihat temanku Nay...
sedang duduk asyik. Entahlah apa yang sedang dikerjakanya.
”Wa’alaikummussalam...
eh... umi rupanya,,, selamat ya umi... Nay sejanne... yo pengen gek ndang
ngenggo jilbab[4]...”.
Wajahnya berubah menjadi sedih.
”Sabar
ya...tak dunga’ne gek ndang nyusul aku... ngeggo jilbab[5],,,”.
Sambil tersenyum, aku memeluknya, aku tau bagaimana kondisi keluarganya.
Teman-temanku
menyambut positif perubahan pada diriku. Aku besyukur, semua tidak ada yang
berubah. Mereka tetap sama seperti dulu, tetap baik padaku. Terimaksih
teman-temanku semua. Ketika aku hendak ke kantor, ruangan guru. Aku bertemu
dengan guru kesenian sekaligus pembimbing ekskul Pramuka. Hm... selain Rohis,
aku juga aktif ikut kegiatan Ekskul. Pramuka looo... hehe.
”Ini kamu
kan?...”. Tanya Bu Uyik padaku.
”Eh... iya
Bu...”. Aku tersenyum sipu dan bersaliman dengan beliau.
”Alhamdulillah...
kamu sudah memakai hijab... tambah cantik looo....hehe,,,”.
”Terimakasih,
Bu...”. Aku tersipu malu, sehingga wajahku memerah karena menahan malu
sekaligus persaan bahagia.
Tidak
hanya teman-teman yang baik padaku yang memberikan tanggapan positif, tetapi
seorang yang selama ini tidak suka padaku dan begitu juga denganku yang kurang
suka padanya. Memberikan sapaan hangat.
”Selamat
ya... semoga kamu tetap istiqomah...”. terlihat senyum manis dan tulus darinya.
Dan aku membalasnya senyumnya dengan perasaan yang sangat bahagia.
”Eh...
kamu Sherly... ya sama-sama,,, kamu juga semoga segera menyusul ya...”.
”Hehe...
kalau aku mungkin masih lama... karena belum siap. Tapi, do’akan saja ya...”.
”Iya...
pasti...”. Lalu aku pergi meninggalkanya dengan perasaan tanpa beban dan
dendam.
Desember, 2010
Hubunganku
semakin dekat dengan seorang ikhwan yang aku kenal di Masjid Al-Ikhlas. Kami
berdua berlomba untuk bangun malam melaksanakan qiyamul lail lebih cepat.
Hari-hari yang ku jalani semakin bermakna. Dan aku sangat bersemangat untuk
berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Di depan rumahku ada sebuah TPA, aku belajar
bersama adik-adik yang aku ajari sebisaku. Aku jadikan sebagai ladang pahala
untukku.
Ketika di
sekolah, aku berbincang-bincang dengan temanku Nay, Ririn, Fitri. Kami
membicarakan banyak hal. Dan juga bercanda ria. Sungguh sangat menyengkan.
”Nay...
kapan berhijab...?.
”Belum
tahu umi.... aku juga sedang bingung,,,”.
”Nay...
harus yakin... kan kita tahu wanita yang baik ituakan mendapatkan pasangan yang
baik pula,,, bukankah Nay sangat mengharapkanya??,,, bagaimana mungkin kita
mendapatkan pasangan yang baik?? Bagaimana kita bisa dengan orang-orang yang
baik, apabila kita tidak dari sekarng mencoba memperbaiki diri??”.
Lalu
temanku Ririn menyahut ucapanku; ”Tapi... umi... percuma juga kan kalau kita
memakai jilbab. Tetapi, sikap kita jauh dari ajaran agama??!!”.
”Nah...
aku juga itu takut begitu...”. jawab Nay dan Fitri hampir bersamaan.
”Iyyaaa...
tapi, justru itu,,, dengan memakai jilbab, lambat-laun sikap kita akan
mengikuti... tentu kita akan malu apabila kita sudah memakai jilbab, namun
sikap kita masih menyimpang. Kalau hati kita sudah mantap dan meluruskan niat,
Insya Allah semua hal-hal yang baik yang selama ini kita anggap tidak mungkin
kita lakukan, akan mengikuti dengan sendiriya... tentu semua itu dengan syarat
kita tidak mengabaikan hidayah yang sudah datang kepada hati kita bukan??”.
”Iya,,,,
ustadzah...hahaha”. Mereka mencubit pipiku karena gemasnya denganku dan mereka
juga tertawa melihat mimik wajahku yang cemberut.
Setelah
mencubit pipiku, mereka berlari dan aku mengejar mereka seraya berkata: ”Ugh...
jahat... awas ya... aku balas... hehehe”.
Januari, 2011
Betapa aku
sangat bahagia. Kerena teman sekelasku Nay, memutuskan untuk berhijab secara
utuh. Memang sekolah tinggal satu semester lagi. Tetapi, tidak menyurutkan niat
Nay untuk memakai jilbab. Aku sangat bangga pada. Ia relakan untuk menutup
mahkota rambutnya yang sangat indah, tidak ada kata nanggung ataupun percuma.
Selama kita niatkan untuk kebaikan, semua pasti akan berjalan dengan baik dan
keadaan juga akan berbaik kepada kita.
Juni, 2011
Aku harus
berdamai dengan hatiku. Karena terkadang tidak semua yang kita inginkan itu
tercapai. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Aku harus
meninggalkan duniaku dulu yang suka bergaul dengan banyak pemuda. Aku mulai
lebih selektif dalam memilih. Walaupun, sekarang tidak seperti dulu, tetapi ini
jalan hidup yang terbaik. Seorang ikhwan yang awalnya aku ingin belajar
darinya, ternyata tumbuh perasaan cinta padanya. Ini salah, tapi cinta tidak
pernah salah. Meskipun sama-sama mencintai, namun kami memutuskan untuk
berpisah dan memilih jalan sendiri-sendiri.
Bukan aku
lari dari kenyataan. Tetapi, Allah memilihkan tempat kuliah yang terbaik
untukku. Semua ada alasanya dan aku juga yakin pasti ada hikmah di balik ini
semua. Pertengahan Juni, aku bersama ayahku berangkat ke Jawa. Aku melanjutkan
kuliah di tanah Jawa. Jauh dari keluarga,teman-temanku dan juga jauh dari
pemuda yang ingin meminangku. Alasanku memilih kuliah di perguruan tinggi agama
adalah untuk memperdalm ilmu agama dan juga aku ingin mencipkan nuansa islami
di daerah tempat tinggalku, yaitu kampung halamanku. Bila semua sesuai rencana,
tapi semua kembali kepasa Sang Pencipta.
Sampai
sekarang, Alhamdulillah aku tetap istiqomah menggenakan hijabku. Aku bangga
memakainya, karena dengan hijab aku merasa lebih dekat dengan Sang Maha
Pencipta. Dan juga lebih dekat dengan orang-orang yang baik. Aku akan terus
berusaha, karena ini bukanlah akhir dari perjalanan hidupku. Tetapi langkah
awal untuk meraih predikat wajah taqwa. Tidak ada yang sia-sia, selama kita masih
berjuang, berupanya untuk menjadi yang lebih baik.
[1] Lihatlah
[2]
Panggilan untuk orang yang lebih tua didaerah Baturaja
[3] http://quran.ittelkom.ac.id/?sid=24&aid=26&pid=arabicid
[4] sejanne...
yo pengen gek ndang ngenggo jilbab : Sebenarnya...
ya ingin segera memakai jilbab
[5] tak dunga’ne gek ndang nyusul
aku... ngeggo jilbab: akan aku do’akan
semoga segera menyusul aku... menggunakan jilbab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar