Sabtu, 22 Agustus 2015

Sebuah Hijrah yang Indah

Oktober, 2009
Malam semakin larut. Aku belum bisa memejamkan kedua mataku. Jantungku berdebar kencang, aku gugup untuk menghadapi hari esok. Hmm... besok aku mewakili sekolahku untuk mengikuti lomba cerdas cermat. Peserta diwajibkan mengenakan jilbab. Bukan masalah pakaian yang membuat hatiku risau, karena aku sudah meminjam pakaian sekolah temanku yang suadah memakai jilbab. Aku memikirkan bagaimana tanggapan teman-teman sekelasku yang melihatku memakai seragam sekolah dengan memakai jilbab. Aku berusaha menepis semua prasangka burukku. ”Huft... lihat saja besok, apapun yang terjadi biarlah”, pikirku dalam hati.
Aku bangun pagi-pagi sekali, setelah merapikan tempat tidur aku melaksanakan tugas yang menjadi rutinitasku sehari-hari. Aku terpaku di depan cermin,,, ”hmm... ternyata aku cantik juga memakai jilbab hijau pupus ini,, ahh... aku memuji diriku sendiri”, dalam hati hati aku tertawa kecil. Segala sesuatu telah aku persiapkan semua. Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolahku.aku berpamitan kepada ibuku dan tak lupa meminta do’a restunya.
Sesampainya di sekolah, ternyata tanggapan positif dari teman-temanku semua. Bahkan mereka memujiku dan berharap aku benar-benar memakai hijab. Teman-teman sekelasku belum ada yang memakai jilbab satupun. Mereka bilang ”belum siap”. Aku sadar rata-rata temanku tinggal di perkotaan. Jadi, pengaruh lingkungan yang belum mendukung. Karena kebanyakan remaja disini memakai pakaian terbuka, tapi meskipun demikian pakaian mereka masih sopan. Hanya saja kurang tertutup sedikit. Hehe,, termasuk aku.
Sebenarnya aku ingin sekali segera hijrah menggunakan hijab secara utuh. Namun, banyak kendala yang harus aku hadapi. Walaupun, keluarga tidak melarangku memakai hijab. Tetapi meraka ragu, apakah aku masih akan tetap istiqomah menutup auratku secara utuh. Pernah aku mengutarakan niatku kepada ibuku. Namun, beliau menolak dengan alasan tidak ada dana untuk mengganti seragam-seragam sekolahku. Aku mengerti kondisi keuangan keluargaku pada saat itu. Banyak sekali pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh orang tuaku utuk biaya sekolahku. Apalagi jarak antara sekolah dengan rumahku cukup jauh. Jadi, setiap hari harus ada uang ekstra. Meskipun begitu aku tetap bertekad untuk bisa mengenakan jilbab. Yach... mungkin dengan mengikuti lomba ini aku bisa mewujudkan impianku.
Allah berkehendak lain, timku tidak memenangkan perlombaan. Terjadi kecurangan dari tim lain. Apa boleh buat timku pulang dengan tangan kossong dan penuh rasa kekecewaan. Aku kecewa pada diriku sendiri. Harapanku untuk segera memakai jilbab pupus.
Desember, 2009
Hari-hari yang mendebarkan. Namun, yang paling dinantikan oleh semua siswa-siswi SMK negeri 01 OKU. Betapa tidak? Karena, hari ini adalah hari pembagian hasil belajar. Hati sangat berharap untuk dapat masuk dalam tiga besar, agar aku bisa meminta kepada ayahku untuk mengabulkan impianku selama ini yaitu mengenakan hijab. Sebaga hadiah, aku memperoleh peringkat. Alhamdulillah,,, allah mengabulkan do’aku. Namun sayang, belum sempat aku bicarakan kepada ayahku. Ternyata, ada kebutuhan lain yang harus dipenuhi yaitu membayar kursus Mayob Akuntansi yang sifatnya wajib dari sekolah. Aku mengurungkan niatku. Tetapi, membuat hatiku semakin menggebu-gebu sebuah kerinduan untuk segera menggenakan jilbab.
Januari, 2010
Aku duduk termangu di depan kelas.hatiku merasa iri dan cemburu melihat adik kelasku sudah menggunakan hijab. Dia tampak terlihat sangat anggun dan juga cantik. Wajah bulatnya terbalut oleh kain suci. Sungguh aku sangat iri.
Keesokan harinya, setelah aku selesai membersihkan ruangan kelas. Aku duduk santai di depan kelasku bersama teman-temanku. Tidak lama dari itu temanku Fita, lewat di depan kelasku. Ada yang berubah darinya. Hmm... dia sudah menggunakan hijab. Fita adalah teman metoringku di sekolah. Selain Fita yang ikut eskul Rohis yaitu Uki’, Tika, Rahma dan Fitri. Sebelum ikut Rohis, kami belum ada yang menggunakan jilbab. Teman sekelasku, Sandra menepuk bahuku. Membuyarkan lamunanku.
”Umi,,, kapan umi pakai jilbab?? Itu lho... jingok-lah[1] Fita sudah pakai jilbab,, umi pasti cantik dech dan sudah cocok pakai jilbab”. Yach... umi, begitulah teman-teman sekelas memanggilku. Entahlah, apa yang menyebabkan mereka memanggilku demikian. Mungkin, karena mereka nyaman apabila curhat denganku.
”Ehh,,, iya.... Aku ingin sekali. Haaaaaahhh,,,,,”. Aku menghembuskan nafas panjang.
Sambila tersennyum dia berkata: ”semoga segera... ya umi,,,”.
”Aminnn...”.
Maret, 2010
Aku terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat UUD 1945 dan Tap. MPR. Tahun kemarin aku sudah mengikuti seleksi untuk mengikuti lomba ini. Jadi, tahun ini aku mengikuti tanpa seleksi lagi. Aku sangat bersemangat dan aku juga yakin bisa masuk final. Bermodal dari pengalaman tahun lalu, dimana timku dapat masuk final. Kami memperoleh juara harapan satu dan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 2.000.000,00-.namun, ternyata Allahmempunyai rencana lain. Seminggu sebelum pelaksanaan lomba, aku mengalami kecelakaan. Sehingga, aku tidak bisa ikut latihan bersama teman-teman lainya guna mengasah kembali materi-materi yang akan dilombakan dan juga gerakan-gerakan kreasi yang ditampilkan, sebelum kami menjawab pertanyaan dari dewan juri. Padahal aku sebagai juru bicaranya. Hasilnya pun sangat mengecewakan. Dari kejadian itu aku mulai mengubur impianku untuk memakai hijab. ”mungkin setelah aku lulus, aku baru bisa memakai hijab”. Harapku dalam hati.
Juli, 2010
Teman-teman metoringku yaitu Fita, Tika, dan Uki’ sudah hijrah untuk memantapkan hati menggunakan jilbab. Aku semakin rindu, rindu untuk segera memakai hijab. Kakak kelasku Ayuk[2] Siti yang juga ikut ekskul Rohis, sudah berangkat melanjutkan kuliah di Jogja. Padahal, aku ingin meminta seragam sekolahnya. Tetapi, Allah membuka jalan lain, lewat adiknya aku bisa mengambil seragam di rumahnya. Aku mendapatkan beberapa stel seragam. Tinggal sekarag aku memikirkan seragam kejuruan. Karena, seragam kejuruan aku dengan yuk Siti berbeda. Jalanku untuk memakai jilbab semakin terbuka lebar. Selama libur semester genab, aku berkerja dan hasil dari kerjaku cukup untuk membeli seragam baru kejuruan.
Ramadhan 1431 H
Selesai melaksanakan sholat tarawih, aku tidak langsung pulang. Aku berniat untuk ikut tadarusan Al-Qur’an. Ketika aku bergabung dengan teman-teman lainya, dihadapanku ada seorang pemuda yang membuat hati tidak karuan. Namun, aku berusaha untuk mengendalikan itu semua. Semenjak saat itu sedikit dekat dengannya. Dia seorang ikhwan yang sangat taat, aku ingin dekat denganya untuk bisa belajar banyak tentang agama. Keputusan dan kesiapanku untuk berhijrah memakai hijab juga didukung kuat olehnya. Pemuda-pemuda yang selama ini menggangguku ketika aku pulang dari masjid ataupun keluar rumah, sudah tidak seheboh pada waktu aku belum menggunakan jilbab.
Benar adanya, bahwa janji Allah akan ditepatinya. Dari dulu aku percaya dan yakin bahwa orang yang dekat dengan kita tidak berbeda jauh dari diri kita. Bisa di atas ataupun dibawah kita. Sebagaimana firman Allah swt. Dalam Al-Qur’an surat An-nur ayat 26.
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).[3]
September, 2010
Setelah liburan semester genab, awal aku masuk kembali ke sekolah. Pagi ini ada yang berubah dalam diriku. Bukan hanya pada penampilanku yang sekarang mengenakan hijab ke sekolah. Tetapi, perasaan bahagia dan haru. Dimana sebuah nasib ditentukan oleh manusia sendiri karena hidup adalah pilihan dan lainya terserah kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Aku menuju kelasku dengan perasaan berkecambuk. Pertemuran antara rasa optimis dan pesimis terhadap tanggapan dari teman-teman dan juga guru-guruku.
”Assalam’alaikum....”.aku sapa teman-temanku yang sudah berada di kelas sebelum aku datang. Suasana kelas masih lumayan sepi, karena belaum banyak yang datang. Terlihat temanku Nay... sedang duduk asyik. Entahlah apa yang sedang dikerjakanya.
”Wa’alaikummussalam... eh... umi rupanya,,, selamat ya umi... Nay sejanne... yo pengen gek ndang ngenggo jilbab[4]...”. Wajahnya berubah menjadi sedih.
”Sabar ya...tak dunga’ne gek ndang nyusul aku... ngeggo jilbab[5],,,”. Sambil tersenyum, aku memeluknya, aku tau bagaimana kondisi keluarganya.
Teman-temanku menyambut positif perubahan pada diriku. Aku besyukur, semua tidak ada yang berubah. Mereka tetap sama seperti dulu, tetap baik padaku. Terimaksih teman-temanku semua. Ketika aku hendak ke kantor, ruangan guru. Aku bertemu dengan guru kesenian sekaligus pembimbing ekskul Pramuka. Hm... selain Rohis, aku juga aktif ikut kegiatan Ekskul. Pramuka looo... hehe.
”Ini kamu kan?...”. Tanya Bu Uyik padaku.
”Eh... iya Bu...”. Aku tersenyum sipu dan bersaliman dengan beliau.
”Alhamdulillah... kamu sudah memakai hijab... tambah cantik looo....hehe,,,”.
”Terimakasih, Bu...”. Aku tersipu malu, sehingga wajahku memerah karena menahan malu sekaligus persaan bahagia.
Tidak hanya teman-teman yang baik padaku yang memberikan tanggapan positif, tetapi seorang yang selama ini tidak suka padaku dan begitu juga denganku yang kurang suka padanya. Memberikan sapaan hangat.
”Selamat ya... semoga kamu tetap istiqomah...”. terlihat senyum manis dan tulus darinya. Dan aku membalasnya senyumnya dengan perasaan yang sangat bahagia.
”Eh... kamu Sherly... ya sama-sama,,, kamu juga semoga segera menyusul ya...”.
”Hehe... kalau aku mungkin masih lama... karena belum siap. Tapi, do’akan saja ya...”.
”Iya... pasti...”. Lalu aku pergi meninggalkanya dengan perasaan tanpa beban dan dendam.
Desember, 2010
Hubunganku semakin dekat dengan seorang ikhwan yang aku kenal di Masjid Al-Ikhlas. Kami berdua berlomba untuk bangun malam melaksanakan qiyamul lail lebih cepat. Hari-hari yang ku jalani semakin bermakna. Dan aku sangat bersemangat untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Di depan rumahku ada sebuah TPA, aku belajar bersama adik-adik yang aku ajari sebisaku. Aku jadikan sebagai ladang pahala untukku.
Ketika di sekolah, aku berbincang-bincang dengan temanku Nay, Ririn, Fitri. Kami membicarakan banyak hal. Dan juga bercanda ria. Sungguh sangat menyengkan.
”Nay... kapan berhijab...?.
”Belum tahu umi.... aku juga sedang bingung,,,”.
”Nay... harus yakin... kan kita tahu wanita yang baik ituakan mendapatkan pasangan yang baik pula,,, bukankah Nay sangat mengharapkanya??,,, bagaimana mungkin kita mendapatkan pasangan yang baik?? Bagaimana kita bisa dengan orang-orang yang baik, apabila kita tidak dari sekarng mencoba memperbaiki diri??”.
Lalu temanku Ririn menyahut ucapanku; ”Tapi... umi... percuma juga kan kalau kita memakai jilbab. Tetapi, sikap kita jauh dari ajaran agama??!!”.
”Nah... aku juga itu takut begitu...”. jawab Nay dan Fitri hampir bersamaan.
”Iyyaaa... tapi, justru itu,,, dengan memakai jilbab, lambat-laun sikap kita akan mengikuti... tentu kita akan malu apabila kita sudah memakai jilbab, namun sikap kita masih menyimpang. Kalau hati kita sudah mantap dan meluruskan niat, Insya Allah semua hal-hal yang baik yang selama ini kita anggap tidak mungkin kita lakukan, akan mengikuti dengan sendiriya... tentu semua itu dengan syarat kita tidak mengabaikan hidayah yang sudah datang kepada hati kita bukan??”.
”Iya,,,, ustadzah...hahaha”. Mereka mencubit pipiku karena gemasnya denganku dan mereka juga tertawa melihat mimik wajahku yang cemberut.
Setelah mencubit pipiku, mereka berlari dan aku mengejar mereka seraya berkata: ”Ugh... jahat... awas ya... aku balas... hehehe”.
Januari, 2011
Betapa aku sangat bahagia. Kerena teman sekelasku Nay, memutuskan untuk berhijab secara utuh. Memang sekolah tinggal satu semester lagi. Tetapi, tidak menyurutkan niat Nay untuk memakai jilbab. Aku sangat bangga pada. Ia relakan untuk menutup mahkota rambutnya yang sangat indah, tidak ada kata nanggung ataupun percuma. Selama kita niatkan untuk kebaikan, semua pasti akan berjalan dengan baik dan keadaan juga akan berbaik kepada kita.
Juni, 2011
Aku harus berdamai dengan hatiku. Karena terkadang tidak semua yang kita inginkan itu tercapai. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Aku harus meninggalkan duniaku dulu yang suka bergaul dengan banyak pemuda. Aku mulai lebih selektif dalam memilih. Walaupun, sekarang tidak seperti dulu, tetapi ini jalan hidup yang terbaik. Seorang ikhwan yang awalnya aku ingin belajar darinya, ternyata tumbuh perasaan cinta padanya. Ini salah, tapi cinta tidak pernah salah. Meskipun sama-sama mencintai, namun kami memutuskan untuk berpisah dan memilih jalan sendiri-sendiri.
Bukan aku lari dari kenyataan. Tetapi, Allah memilihkan tempat kuliah yang terbaik untukku. Semua ada alasanya dan aku juga yakin pasti ada hikmah di balik ini semua. Pertengahan Juni, aku bersama ayahku berangkat ke Jawa. Aku melanjutkan kuliah di tanah Jawa. Jauh dari keluarga,teman-temanku dan juga jauh dari pemuda yang ingin meminangku. Alasanku memilih kuliah di perguruan tinggi agama adalah untuk memperdalm ilmu agama dan juga aku ingin mencipkan nuansa islami di daerah tempat tinggalku, yaitu kampung halamanku. Bila semua sesuai rencana, tapi semua kembali kepasa Sang Pencipta.
Sampai sekarang, Alhamdulillah aku tetap istiqomah menggenakan hijabku. Aku bangga memakainya, karena dengan hijab aku merasa lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta. Dan juga lebih dekat dengan orang-orang yang baik. Aku akan terus berusaha, karena ini bukanlah akhir dari perjalanan hidupku. Tetapi langkah awal untuk meraih predikat wajah taqwa. Tidak ada yang sia-sia, selama kita masih berjuang, berupanya untuk menjadi yang lebih baik.



[1] Lihatlah
[2] Panggilan untuk orang yang lebih tua didaerah Baturaja
[3] http://quran.ittelkom.ac.id/?sid=24&aid=26&pid=arabicid
[4]  sejanne... yo pengen gek ndang ngenggo jilbab : Sebenarnya... ya ingin segera memakai jilbab
[5] tak dunga’ne gek ndang nyusul aku... ngeggo jilbab: akan aku do’akan semoga segera menyusul aku... menggunakan jilbab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar